Setting Menu Media di wordpress.com

Cara Setting Menu Media WordPress – Makin semangat nih menulis mengenai panduan wordpress. Sebenarnya tidak terlalu banyak yang harus diatur dalam menu Media, biasanya Kang Rohman membiarkan setting default atau bawaan asli.

Cara Setting Menu Media WordPress

Berikut adalah langkah-langkah bagaimana cara setting menu media pada wordpress :
  1. Silahkan login ke area admin blog wordpress anda.
  2. Sorot menu Settings yang ada disebelah kiri bawah layar monitor anda, setelah keluar sub menu, pilih menu Media.
  3. Silahkan isi form yang tersedia atau pilih sesuai dengan keinginan anda dan akhiri dengan klik tombol Save Changes.
    • Thumbnail size : Jika ingin di ubah, silahkan ubah ukuran ( dalam satuan pixel ) untuk menentukan ukuran gambar thumbnail.
    • Medium size : Jika ingin di ubah, silahkan ubah ukuran ( dalam satuan pixel ) untuk menentukan ukuran gambar medium.
    • Large size : Jika ingin di ubah, silahkan ubah ukuran ( dalam satuan pixel ) untuk menentukan ukuran gambar Large.
    • Auto-embeds : silahkan ceklis atau tidak.
    • Maximum embed size : Jika mau di ubah, silahkan ubah nilainya sesuai keinginan.
    • Store uploads in this folder : Jika ingin mengubah folder untuk media upload silahkan di ubah, namun biasanya dibiarkan default saja.
    • Full URL path to files : Biasanya dibiarkan kosong saja.
    • Organize my uploads into month- and year-based folders : Jika upload file ingin diurutkan berdasarkan bulan serta tahun, biarkan terceklis. menu media
  4. Selesai

Info Tambahan Seputar Menu Media

Dari namanya, menu Media tentu pengaruhnya terhadap media penyimpanan file pada wordpress termasuk gambar. Pengaturan Thumbnail sizeMedium size, dan Large size, ini akan berpengaruh terhadap ukuran gambar ketika akan di masukkan ke dalam post editor sebelum di publikasikan. Ketika kita akan memasukkan gambar, wordpress akan menyuguhkan opsi yang harus anda pilih yaitu Thumbnail, Media, Large, serta Full Size.

ukuran gambar wordpress

Ukuran tersebut mengacu pada pengaturan size gambar yang ada pada menu media.

Bahaya Minum Susu dan Telur

Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzym) setelah melalui penelitian selama 30 tahun mengambil kesimpulan kalau susu sapi justru menyebabkan penyakit, osteoporosis, merusak jaringan usus dan memperpendek umur manusia. Kenapa hampir semua orang mengatakn susu formula/susu sapi itu bagus? Jawabnnya karena iklan menggerayangi mata pikiran kita setiap hari. Mengapa banyak ilmuwan yang mengatakan susu itu baik untuk kesehatan? Karena penelitian mereka dibiayai oleh perusahaan penghasil susu.
Jelas usus sapi beda dengan usus manusia, masa usus manusia mau dikasih susu sapi?
Susu sapi ya untuk sapi, susu manusia untuk manusia.
Jadi………… Katakan tidak untuk Susu Sapi 
Didalam buku best seller: The Miracle of Enzyme (Dr. Hiromi Shinya) dikatakan bahwa:
1. Tidak ada makanan lain yang lebih sulit di cerna daripada susu (sapi)
2. Kasein yg membentuk kira-kira 80% dari protein yang terdapat dalam susu, langsung
menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung sehingga menjadi sangat sulit di cerna.
3. Komponen susu yang di jual di toko telah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas
4. Susu yang dipasteurisasi tidak mengandung enzim-enzim yang berharga, lemaknya teroksidasi
dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yg tinggi
5. Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus,
meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus
6. Jika wanita hamil minum susu (sapi), anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit
dermatitis atopik (Penyakit radang kulit yang parah)
7. Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan osteoporosis.
Kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg, namun, saat minum susu, konsetrasi kalsium dalam darah anda tiba-tiba meningkat. Walaupun sepintas hal ini mungkin terlihat seperti banyaknya kalsium telah terserap, tetapi peningkatan jumlah kalsium dalam darah ini memiliki sisi buruk. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah tiba tiba meningkat, tubuh berusaha untuk mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Dengan kata lain, jika anda mencoba untuk minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan.
Dari empat negara penghasil susu terbesar – AMERIKA, SWEDIA, DENMARK & FINLANDIA – di negara yang banyak sekali mengkonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosisDalam buku Real Food juga dibahas tentang kalsium susu sapi yang sedikit diserap tubuh karena pengaruh makanan sapi jaman sekarang yang tidak lagi makan rumput sehingga enzim dan zat yang diperlukan untuk penyerapan kalsium sangatlah kurang…Dari situ sebenarnya kita bisa melihat, bahwa bukan cuma sebatas ’seberapa banyak’ kalsium yang dikandung dalam suatu jenis makanan/minuman, tetapi bagaimana penyerapannya dalam tubuh kita, itu lebih penting… Jadi kalo kita minum susu hi-calcium, tapi kalo tubuh kita tidak bisa menyerapnya, maka kalsium hanya akan terbuang percuma…Menanggapi pendapat Shinya ini, pakar gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Waloejo Soerjodibroto, setuju dengan sebagian pendapat Shinya bahwa susu sapi memang paling cocok untuk anak sapi, bukan untuk anak manusia, apalagi manusia dewasa. Prof Waloejo sebaliknya setuju dengan pendapat Prof Shinya bahwa asupan kalsium tidak melulu harus dari susu. Ikan-ikan kecil dan rumput laut, yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang, ternyata mengandung kalsium yang tidak terlalu cepat diserap (slow release) yang justru dapat meningkatkan jumlah kalsium dalam darah.Waloejo menekankan, yang penting untuk mencegah berkurangnya massa kalsium pada jaringan tulang bukan hanya asupan kalsium, tetapi juga tersedianya vitamin D3, yang dibuat dari inti kolesterol. Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis. Jawabnya: “Karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut makanan tidak bermutu itu antara lain susu dan daging. Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang “jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.
Apabila kita harus minum susu , ikuti beberapa aturan dalam mengkonsumsinya.
1. Susu vs jeruk
Beri jeda setidaknya satu jam antara minum susu dan mengkonsumsi buah-buahan yang bersifat asam, jeruk misalnya.,sebab, tartaric acid yang terkandung dalam jeruk akan membekukan protein dalam susu. Akibatnya, protein susu jadi sulit diserap tubuh.
2. Susu vs gula
Sebaiknya tidak mencampur susu segar yang masih panas dengan gula. Tunggu agak dingin, baru mencampurkan gula. Mengapa? Sebab susu mengandung leucine (asam amino). Bila dalam keadaan panas dicampur gula, leucine akan bereaksi menjadi leusine fructosyl (radikal fluktosa) yang beracun dan dapat merusak tubuh.
3. Susu vs coklat
Susu mengandung banyak protein dan kalsium, sementara coklat mengandung asam oksalat. Bila keduanya dikonsumsi secara bersamaan, akan menjadi kalsium yang bersifat non-larut. Hal ini sangat mempengaruhi daya serap terhadap kalsium. Akibatnya adalah timbulnya gejala rambut kering, dan banyak buang air.
4. Susu vs obat
Berikan jeda setidaknya satu jam antara minum susu dengan mengkonsumsi obat. Karena, susu dapat mempengaruhi tubuh dalam menyerap obat. Susu, dalam hal ini, akan melapisi obat dengan membentuk semacam selaput. Akibatnya unsur-unsur yang terkandung dalam susu, seperti kalsium, magnesium, dan lain sebagainya membentuk reaksi kimia dengan obat. Reaksi kimia ini membuat materi obat tidak larut dalam air. Hal ini mempengaruhi kemampuan daya buang dan daya serap terhadap obat
Lalu apa bahaya telur..?
Kenapa Telur mentah kurang baik bagi kesehatan? Berdasarkan penelitian tentang kandungan nilai gizi dari perlakuan konsumsi telur baik mentah, setengah matang, dan matang, sebetulnya tak jauh beda. Hanya, karena telur mentah “sedikit daya dapat dicernanya”, bahan makanan ini dapat awet “nangkring” di perut dalam keadaan utuh. Akibatnya, seseorang yang mengonsumsi telur mentah bisa merasa kenyang lebih lama daripada yang makan telur matang. Keawetan membuat kenyang inilah yang menyebabkan telur mentah dikira lebih bergizi.
1.Mengandung Avidin
Salah satunya adalah karena adanya Zat Avidin. Zat Avidin dapat juga di artikan sebagai “albumin yang lapar” yang bagi embrio ayam berfungsi sebagai pembunuh bakteri perusak (toxic) dari luar, dan juga berfungsi sebagai pelindung unsur-unsur gizi lain di dalam telur. Buruknya Avidin adalah karena Avidin mampu mengikat biotin, sehingga dapat menghambat penyerapan vitamin dan mineral oleh tubuh. Selain itu Zat Avidin juga dapat menyebabkan gejala kebotakan, dan penyakit dermatitis (Exsim = kelainan kulit yang mana kulit tampak meradang dan iritasi ). Jadi jika Ada yang makan telur terus gatal-gatal, ada kemungkinan telur yang di makan itu belum matang atau hanya setengah matang saja.Zat Avidin dalam telur dapat dihilangkan dengan cara memanaskan telur.
2.Mengandung Bakteri ( Terutama Bakteri Salmonela )
Salmonela adalah suatu bakteri yang dapat menimbulkan keracunan (Salmonella food poisoning), dapat menyebabkan tifus dan disentri, dengan gejala-gejala seperti mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, kedinginan, demam, dan diare. Bakteri ini dapat menyusup ke dalam telur sewaktu telur masih dalam “kandungan”, namun yang paling sering setelah dikeluarkan, terutama apabila kebersihan kandang dan lingkungan kurang diperhatikan. Telur mentah atau telur setengah matang, yang biasanya terkandung dalam home-made mayonnaise, fla, beberapa dessert seperti chocolate mousse, tiramisu atau ice cream. Kandungan telor mentah pada makanan-makanan tersebut bisa menyebabkan ibu keracunan salmonella hingga sakit parah.
3.Mengandung Ovomucoid
Ovomucoid merupakan protein pada telur yang memiliki aktivitas antitripsin. Zat Ovomucoid dapat menyebabkan manifestasi kulit (urtikaria, gatal, merah, bengkak, papula, vesikula) dan manifestasi saluran pernapasan (batuk, wheezing). Agar Ovomucoid tidak sampai merugikan Anda sebaiknya, tidak memberi bayi dan anak, terutama yang memiliki “bakat” alergi (intrinsic allergic potency) putih telur, apalagi dalam keadaan mentah.
4.Mengandung Melamin
Melamin merupakan bahan yang biasa digunakan di antaranya untuk memproduksi plastik, pupuk, dan cat. Diduga, bahan tersebut masuk telur lewat pakan yang diberikan kepada ayam. Beberapa pakar kesehatan mengatakan, dengan kadar yang sangat kecil, melamin sebetulnya tidak menimbulkan potensi bahaya. Namun, dengan kadar sebanyak itu, unsur ini disebut-sebut mampu menimbulkan batu ginjal hingga gagal ginjal.Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan cara untuk menetralisasi melamin dalam telur, maka langkah yang paling tepat guna menghindarinya adalah dengan tidak mengonsumsi telur yang mengandung melamin, baik yang sudah matang, setengah matang, apalagi mentah.
Bahaya orang yang makan telur setiap hari.
Orang-orang yang makan telur ayam setiap hari beresiko meningkatkan risiko kena penyakit kencing manis tipe 2.
Laki-laki yang mengkonsumsi telur ayam setiap hari mempunyai resiko 58% terkena kencing manis dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi telur ayam. Sedangkan wanita yang mengkonsumsi telur ayam setiap hari mempunyai resiko 77% terkena kencing manis.Demikian dilaporkan oleh Luc Djoussé, M.D., D.Sc., of Brigham and Women’s Hospital and Harvard, and colleagues reported online in Diabetes Care.
Telur merupakan sumber kolesterol (sekitar 200mg/butir) dan mengandung 1,5gr lemak jenuh. Keduanya dapat meningkatkan resiko kencing manis.
Akan tetapi didalam jurnal Diabetes Care tersebut juga diakatakan oleh Dr Michael Dr Gaziano, bahwa mengkonsumsi 1 butir telur/minggu tidak akan meningkatkan resiko terkena kencing manis, melainkan justru dapat menurunkan resiko terkena kencing manis tipe 2, hal ini disebabkan karena sebutir telur mengandung lemak polyunsaturated sekitar 0,7gr.
Telur ayam memang merupakan sumber vitamin, protein dan nurtisi lainnya, akan tetapi telur kaya dengan kolesterol yang akan menambah resiko terkena serangan jantung, stroke dan kencing manis

Narsisme Politik dan Candu Kekuasaan

Ada suatu penyakit yang secara sadar atau tidak telah menjangkiti publik dewasa ini, yakni apa yang disebut sebagai narsisme publik. Jean M Twenge dan W Keith Campbel dalam buku The Narcism Epidemic: Living in the Age of Enlitlement, menulis bahwa narsisme telah menjadi sebuah penyakit yang menjangkiti sejumlah besar individu di dunia.
Itu terlihat dari begitu banyaknya orang yang semakin tergoda untuk menonjolkan kekayaan mereka, penampilan fisik mereka, pengidolaan terhadap para selebritas, dan aneka kegiatan yang condong hanya untuk mencari perhatian.
Acara-acara televisi seperti reality show adalah salah satu bagian dari proses bagaimana banyak orang di belahan dunia terjangkiti epidemi narsisme.
Untuk konteks Amerika Serikat (AS), di mana kedua psikolog itu berasal, narsisme adalah penyakit yang sama seriusnya dengan penyakit obesitas (kegemukan).
Bahkan, untuk narsisme ini pun ada pengukuran scientific, yang disebut Narcisistik Personality Disorder (NPD) di mana satu dari empat mahasiswa memenuhi symptom NPD itu. Di AS, misalnya, lewat sebuah penelitian, satu dari 10 orang AS yang berusia 20-an tahun mengalami gejala itu, atau satu dari 16 orang AS dari segala usia juga mengalami gejala yang sama.
Narsisme adalah perilaku yang memuja atau memuji diri sendiri. Watak dan kepribadian orang-orang narsistik itu selalu berilusi dan memandang ke dalam dirinya sebagai orang-orang terhebat.
Mereka selalu berusaha untuk tampil berwibawa, trendi, dan elegan demi kemegahan atau keterhormatan diri agar terus menjadi pusat perhatian. Orang-orang narsis ingin selalu dipuji, karena dengan itu dirinya merasa senang dan terhormat, dan seorang yang narsis sangat percaya diri.
 
Narcis dan Kekuasaan
Jika merujuk pada asal kata narsis, kita bertemu dengan sosok Narcis, seorang pemuda tampan dari khazanah legenda Yunani kuno, dari prolog Paolo Coelho, The Alchemist. Di dalamnya dikisahkan seseorang bernama Narcis yang selalu menolak wanita-wanita cantik yang mendekatinya dan gemar mengagumi dirinya sendiri pada permukaan air danau yang tenang dan jernih.
Setiap hari ia pergi ke tepi danau dan mematut-matut bayangan wajahnya di sana. Berjam-jam ia berdiri di tepi danau itu. Ia menemukan wajah pemuda tampan dan memuja-muja wajah pemuda itu.
Narcis tidak sadar bahwa bayangan itu adalah dirinya sendiri, dan ia terus hidup dengan ketampanan atas bayangannya pada air danau itu, karena merasa dirinya lebih tampan dari orang-orang di sekelilingnya.
Alhasil, pada suatu hari Narcis meninggal maka danau itu kehilangan pengunjung tetapnya. Danau pun bersedih dan menangis. Seekor ikan yang hidup di danau itu kerap melihat danau itu sedih dan menangis lalu bertanya apakah dia menangisi kepergian Narcis. Sang danau menjawab, “Aku sama sekali tidak menangisi kepergiannya. Aku merasa sangat kehilangan, karena setiap kali ia datang memandangi wajahnya pada diriku, aku menyaksikan keindahanku pada bola matanya.”
Twenger dan Campbel menyebut ada empat fenomena sebagai akar yang menghasilkan epidemik narsisme; perilaku orang tua yang berlebihan pada anak, fenomena para selebritas, merebaknya dunia cyber, serta media-media yang mentransmisikan narsismenya dan kompetisi untuk mendapatkan perhatian publik dan memamerkan kekayaan.
Yang paling jelas terlihat betapa tampilan narsis dari berbagai pejabat yang memasang papan iklan besar-besar di pinggir jalan dengan wajahnya, serta aneka pesan “pembangunan”, terutama pada saat kampanye politik.
Seperti ditulis Achmad Tedyani Saifuddin, (2010) Guru Besar Antropologi FISIP UI, kisah Narcis adalah tragedi yang mencerminkan tentang bagaimana memandang dan menyikapi diri kita sendiri dan orang lain dalam kebudayaan kita, yang masih terkotak-kotak, saling curiga, dengki, dan menganggap diri dan kelompok sendiri lebih baik dan lebih hebat.
Artinya, kisah Narcis memang memiliki metafora tentang masyarakat dan kebudayaan kita dalam memandang kehidupan dan orang lain dus termasuk watak politik dan kekuasaan kita.
Kekuasaan dalam ranah narsis selalu ditempatkan di atas segala-galanya. Dengan demikian, segala macam cara dilakukan ala Machiaveli untuk meraih ilusi kekuasaan dan menyingkirkan setiap pesaingnya.
Penguasa yang terasuki gejala narsis, ia kerap merasakan kekuasaan sebagai candu. Seorang diktator yang ingin terus berkuasa, misalnya, akan terus-menerus memoles citra dirinya, sehingga menjadi candu kekuasaan.
Betapa mengerikan jika para penguasa kita dalam berbagai ranah sosial dan politik telah dirasuki penyakit narsisme dan kecanduan kekuasaan. Seorang penguasa yang narsistik dan kecanduan kekuasaan akan melahirkan kebijakan yang hanya menguntungkan diri sendiri dan gemar berperilaku korup demi kenikmatan diri.
Persoalannya, seperti dikatakan seorang profesor dalam bidang psikologi di Makata Medical Center di Filipina, semua pemimpin (dan calon pemimpin) itu berkepribadian narsistik, meski tidak semua narsis itu menjadi pemimpin. Watak dan kepribadian orang-orang narsistik itu selalu berilusi dan memandang ke dalam dirinya sebagai orang-orang terhebat.
 
Kembali ke Jalur Moral
Karena itu, sangat dianjurkan, jika tidak ingin terperangkap ke dalam penyakit dan endemis narsisme, harus segera kembali ke jalur moral dalam menjalankan hidup. Perilaku narsis yang hanya menyenangkan diri sendiri harus dijauhkan.
Bagi penguasa atau pemimpin, segala praksis kekuasaan yang selama ini dilakukan dengan upaya menyingkirkan orang lain harus dihentikan, dan dimulai dengan membangun kemurnian dan keteguhan hati untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat dan/atau orang lain dengan lebih mengorbankan kepentingan diri.
Artinya, seorang pemimpin harus merasa terhormat dengan menjadikan kekuasaan sebagai areal pelayanan bagi rakyat, bukan sebagai areal untuk mempertontonkan kehebatan diri. Kekuasaan harus dipahami ulang sebagai katalis untuk memberi ruang aktualisasi diri sebagai pelayanan dan pengabdian terhadap kepentingan rakyat.
Praksis kekuasaan yang selama ini dilakukan dengan upaya menyingkirkan orang lain demi pemenuhan selera kepentingan diri yang narsistik harus dihentikan, dan harus dimulai dengan membangun keutuhan hati untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat.
Di situlah terpatri kemuliaan diri yang sesungguhnya menjadi keutamaan (virtue) dalam kehidupan politik, terutama dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Semoga kita belum terjangkiti epidemis narsisme yang menjauhkan kita dari keutamaan dan keagungan hidup. ●

Sulfonamida

Sulfonamida adalah sebuah agen kemoterapi. Antimikroba ini kebanyakan merupakan turunan sulfanilamida (p – aminobenzenasulfonamida : NH2.C6H4.SO2.NH2).


Sulfonamida bersifat mikrobiostatik untuk sejumlah besar bakteri gram positif dan gram negatif, dan berbagai protozoa (seperti coccidia, Plasmodium spp). Sulfonamida digunakan biasanya dengan kombinasi agen kemoterapi lainnya untuk merawat infeksi saluran kencing, malaria, coccidiosis dll.

Sulfonamida bertindak sebagai analog struktural dari asam p-aminobenzoik (PABA), yang menghambat PABA saat pembentukan asam dihidropteroik dalam sintesis asam folat. Organisme yang membuat sendiri asam folatnya dan tidak dapat memakai pasokan eksogen dari vitamin menjadi sensitif terhadap sulfonamida, karena selnya dapat menyerap obat ini, sementara organisme yang memerlukan asam folat eksogen untuk pertumbuhannya tidak sensitif. Penundaan periode beberapa generasi terjadi antara paparan sel yang sensitif pada sulfonamida dan penghambatan pertumbuhan; pada saat ini sel menghabiskan pasokan asam folat endogen yang telah dibuat sebelumnya. Efek penundaan ini memungkinkan sulfonamida dipakai bersama dengan antibiotik (misalnya penisilin) yang hanya aktif terhadap organisme yang tumbuh.

Efek penghambat sulfonamida dapat dinetralkan dengan memasok sel dengan metabolit yang normalnya membutuhkan asam folat untuk sintesisnya (misalnya purin, asam amino tertentu); zat demikian dapat hadir misalnya dalam pus, sehingga sulfonamida menjadi tidak efektif dalam perawatan infeksi suppuratif tertentu. Bakteri yang siap mengembangkan resistansi pada sulfonamida, seperti modifikasi Streptococcus pneumoniae yang dihasilkan lewat mutasi satu langkah pada sintetase asam dihidropteroik dapat mengurangi afinitas enzim sulfonamida tanpa mengurangi afinitasnya pada PABA. Hambatan dari plasmid juga muncul dan dapat terlibat, misalnya plasmid tersandi sintase asam dihidropteroik resistan sulfonamida.

Gugus Fungsi Sulfonamida

Banyak jenis sulfonamida yang berbeda misalnya dalam sifat klinisnya, toksisitasnya, dll. Sebagian besar turunan memiliki penyusun nitrogen dari grup sulfonamida   (NH2.C6H4.SO2.NHR). Substitusi grup p-amino menghasilkan hilangnya aktifitas anti bakterial, namun turunan demikian dapat dihidrolisa in vivomenjadi turunan yang aktif. Sebagai contoh, p-Nsuccunylsulfatiazol dan fitalilsulfatiazol tidak aktif dan sulit diserap perut, namun mereka terhidrolisa pada usus bawah untuk melepaskan komponen aktif sulfatiazol; obat ini telah digunakan misalnya pada saat sebelum dan sesudah bedah perut.

Contoh-contoh sulfonamida antara lain:

1. Sulfacetamida (N-[(4-aminofenil)sulfonil]-asetamida);

2. Sulfadiazin

3.        Sulfadimetoksin  (4-amino-N-(2,6-dimetoksi-4-pirimidinil)benzenesulfonamida)

4. Sulfadimidin (=sulfametazin:  4-amino-N-(4,6-dimetil-2-pirimidinil)benzenesulfonamida);

5.        Sulfaguanidin (4-amino-N-(aminoiminometil)benzenesulfonamide);

6.        Sulfametizol (4-amino-N-(5-metil-1,3,4-tiadiazol-2-il)benzenesulphonamide);

7.        Sulfametoksazol (4-amino-N-(5-metil-3-isoxazolil)benzenesulfonamida);

8.        sulfatiazol (4-amino-N-2-tiazolilbenzenesulfonamida); dan sebagainya.

Referensi

1.        Paul Singleton and Diana Sainsbury, 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology, Third Edition John Wiley & Sons

2.       Wikipedia. 2010. Sulphonamide

Penemuan Dua Senyawa Baru untuk Mengobati Kecanduan Rokok dan Alkohol

“Data kami menunjukkan bahwa dengan menargetkan subtipe nAChR tertentu, dimungkinkan bisa mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin dengan satu obat.”


Para peneliti di Klinik Ernest Gallo dan Pusat Penelitian di Universitas California, San Francisco, serta Pfizer Inc, telah menentukan bahwa dua senyawa baru mungkin efektif dalam mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin pada saat yang bersamaan.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam Neuropsychopharmacology edisi 3 November 2010, para peneliti menunjukkan bahwa konsumsi alkohol pada tikus secara signifikan diturunkan oleh dua senyawa yang ditargetkan ke reseptor asetilkolin neuronal nicotinic (nAChR) subtipe {alpha}3{beta}4*.

nAChRs merupakan protein yang ditemukan di dalam otak dan sistem saraf pusat lebih luas yang memediasi efek zat-zat seperti nikotin. Baru-baru ini studi genetika manusia telah menunjukkan bahwa pengkodean gen subtipe {alpha}{3}beta4* sangat signifikan bagi kerentanan terhadap ketergantungan alkohol dan nikotin.

“Masalah ini telah menerjemahkan temuan-temuan genetik penting dalam pengobatan yang lebih efektif bagi manusia,” kata rekan penulis senior, Selena E. Bartlett, PhD, direktur kelompok Pengembangan Praklinis di Center Gallo. Penulis utama studi ini adalah Susmita Chatterjee, PhD, dari Pusat Gallo.

Pekerjaan telah dilakukan dalam kolaborasi dengan para ilmuwan yang dipimpin oleh rekan-penulis senior, Hans Rollema, PhD, dalam Neuroscience Research Unit di Pfizer Inc

Salah satu senyawa baru, CP-601932, telah dinyatakan aman pada manusia dalam sebuah studi klinis, catat Bartlett. Dia merekomendasikan sebuah studi klinis untuk mengevaluasi efikasi senyawa dan potensi manfaat baik dalam mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin.

Senyawa lainnya adalah PF-4575180. Keduanya dikembangkan oleh Pfizer.

“Kecanduan alkohol dan nikotin seringkali diperlakukan sebagai gangguan yang terpisah,” kata Bartlett, “terlepas dari kenyataan bahwa 60 hingga 80 persen peminum berat juga menghisap tembakau. Sangat sedikit strategi yang efektif untuk mengobati gangguan ini secara terpisah, apalagi secara bersamaan. Data kami menunjukkan bahwa dengan menargetkan subtipe nAChR tertentu, dimungkinkan bisa mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin dengan satu obat.”

Selagi senyawa memiliki dampak yang signifikan terhadap konsumsi alkohol pada tikus, asupan sukrosa tidak memiliki efek.” Hal ini menunjukkan bahwa tidak seperti obat lainnya yang sudah disetujui untuk penyalahgunaan alkohol, senyawa ini tidak mengganggu sistem pengimbalan alamiah otak dengan cara yang lebih luas,” kata Bartlett.

Rekan penulis dari penelitian ini adalah Pia Steensland dari Institutet Karolinska, Swedia; Jeffrey A. Simms dan Joan Holgate dari Gallo Center, serta Yotam W. Coe, Raymond S. Hurst, Christopher L. Shaffer dan John Lowe dari Pfizer.

Penelitian ini didukung pendanaan dari National Institute of Health, Departemen Pertahanan AS, Negara Bagian California, Yayasan BLANCEFLOR Boncompagni-Ludovisi, Bildt née, Yayasan Swedia-Amerika, dan Insamlingsstiftelsen Hjärnfonden/Yayasan Otak Swedia.

UCSF – afiliasi Klinik Ernest Gallo dan Research Center merupakan salah satu pusat terkemuka di dunia akademis untuk studi dasar biologis gangguan penggunaan substansi dan alkohol. Gallo Center menemukan molekul target potensial untuk pengembangan obat terapeutik yang diperpanjang melalui studi proof-of-concept klinis dan praklinis.

UCSF merupakan universitas terkemuka yang didedikasikan untuk mempromosikan kesehatan di seluruh dunia melalui penelitian biomedis lanjut, tingkat pendidikan sarjana di bidang ilmu pengetahuan dan profesi kesehatan, serta keunggulan dalam perawatan pasien.

Sumber Artikel: New compounds may treat alcohol, cigarette addictions

MDMA: Empathogen atau Ramuan Cinta?

“Dalam konteks pengobatan, efeknya bisa meningkatkan keakraban di antara orang-orang yang mengalami kesulitan berdekatan dengan orang lain.”


MDMA – yang dikenal sebagai ekstasi – bisa meningkatkan perasaan empati dan hubungan sosial. Efek ‘empathogenic’ ini menunjukkan bahwa MDMA mungkin berguna meningkatkan psikoterapi bagi orang yang berjuang untuk merasa terhubung dengan orang lain, sebagaimana yang terjadi pada penderita autisme, skizofrenia, atau gangguan kepribadian antisosial.

Bagaimanapun juga, efeknya sulit untuk diukur secara objektif, dan telah ada penelitian yang terbatas pada manusia. Saat ini, para peneliti dari Universitas Chicago, yang didanai oleh National Institute on Drug Abuse, melaporkan temuan-temuan baru mereka pada sukarelawan sehat dalam edisi terbaru Biological Psychiatry.

Dr Gillinder Bedi, penulis studi, menjelaskan, “Kami menemukan bahwa MDMA menghasilkan keramahan, penuh canda, dan perasaan cinta, bahkan ketika itu diberikan kepada orang-orang di laboratorium dengan kontak sosial yang kecil. Kami juga menemukan bahwa MDMA mengurangi kapasitas para relawan untuk mengenali ekspresi wajah takut pada orang lain, efek yang mungkin terlibat dalam peningkatan sosialisasi yang dihasilkan oleh MDMA.”

Data ini menunjukkan bahwa MDMA menghasilkan efek yang membuat orang lain tampak lebih menarik dan ramah, yang bisa berfungsi sebagai motivator yang signifikan dalam penggunaannya sebagai obat rekreasi. Lebih signifikan lagi, ini juga membuat orang lain tampak kurang mengancam, yang dapat meningkatkan pengambilan resiko sosial bagi para pengguna.

“Dalam konteks pengobatan, efeknya bisa meningkatkan keakraban di antara orang-orang yang mengalami kesulitan berdekatan dengan orang lain,” kata Dr John Krystal, Editor Biological Psychiatry. “Namun, MDMA mendistorsi persepsi seseorang tentang orang lain ketimbang memproduksi empati yang sesungguhnya, MDMA dapat menyebabkan masalah jika hal itu menyebabkan orang salah menafsirkan keadaan emosional dan mungkin niat orang lain.”

Tentu saja, penelitian lebih lanjut dalam mengontrol pengaturannya diperlukan sebelum MDMA dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai pengobatan psikoterapi. Namun, temuan ini juga menggarisbawahi kebutuhan untuk memahami lebih lanjut tentang cara di mana obat yang berbeda mempengaruhi pengalaman sosial, mengingat bahwa penyalahan obat begitu umum digunakan dalam pengaturan sosial.

  • Sumber artikel: MDMA: Empathogen or Love Potion? (elsevier.com)
  • Kredit: Elsevier
  • Informasi lebih lanjut: Gillinder Bedi, David Hyman, Harriet de Wit. Is Ecstasy an ‘Empathogen’? Effects of ±3,4-Methylenedioxymethamphetamine on Prosocial Feelings and Identification of Emotional States in OthersBiological Psychiatry, 2010; 68 (12): 1134 DOI: 10.1016/j.biopsych.2010.08.003

Sifat Protektif Teh Hijau Terungkap

Minum teh hijau secara teratur bisa melindungi otak terhadap perkembangan Alzheimer dan bentuk demensia lain, demikian menurut penelitian terbaru oleh para ilmuwan di Universitas Newcastle.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal akademis Phytomedicine, juga menyarankan bahwa obat Cina kuno ini dapat memainkan peran penting dalam melindungi tubuh terhadap kanker.

Dipimpin oleh Dr. Ed Okello, tim Newcastle ingin tahu apakah sifat protektif teh hijau masih aktif begitu teh telah dicerna.

Pencernaan adalah sebuah proses penting yang memberi tubuh kita nutrisi yang kita butuhkan untuk bertahan hidup. Tapi, kata Dr. Okello, meskipun asupan yang masuk ke dalam mulut kita secara umum mengandung sifat yang meningkatkan kesehatan, kita tidak bisa menganggap senyawa tersebut akan bisa terserap oleh tubuh.

“Apa yang benar-benar menarik tentang studi ini, kami menemukan bahwa bila teh hijau dicerna oleh enzim dalam usus, zat kimia yang dihasilkan sebenarnya lebih efektif terhadap pemicu utama pengembangan Alzheimer daripada bentuk teh yang tercerna,” jelas Dr. Okello, yang berbasis di Sekolah Pertanian, Pangan dan Pembangunan Pedesaan di Universitas Newcastle.

“Selain itu, kami juga menemukan bahwa pencernaan senyawa ini memiliki sifat anti-kanker, secara signifikan memperlambat pertumbuhan sel tumor yang kami gunakan dalam percobaan kami.”

Sebagai bagian dari penelitian ini, tim Newcastle bekerjasama dengan Dr. Gordon McDougall dari Group Produk Tanaman Pangan dan Mutu di Skotlandia Crop Research Institute di Dundee, yang mengembangkan teknologi yang mensimulasikan sistem pencernaan manusia.

Hal inilah yang memungkinkan tim riset menganalisis sifat protektif dari produk pencernaan.

Dua senyawa yang diketahui memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit Alzheimer – peroksida hidrogen dan protein yang dikenal sebagai beta-amiloid.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa senyawa yang dikenal sebagai polifenol, terkandung di dalam teh hitam dan hijau, memiliki sifat pelindung saraf, mengikat dengan senyawa beracun dan melindungi sel-sel otak.

Ketika ditelan, polifenol terpecah untuk menghasilkan campuran senyawa dan inilah yang diuji oleh tim Newcastle dalam penelitian terbaru mereka.

“Inilah salah satu alasan mengapa kami harus berhati-hati ketika kami membuat klaim tentang manfaat kesehatan dari berbagai makanan dan suplemen,” jelas Dr. Okello.

“Ada bahan kimia tertentu yang kami tahu akan bermanfaat dan kami bisa mengidentifikasi makanan yang kaya manfaat, namun apa yang terjadi selama proses pencernaan sangat penting untuk mencari tahu apakah makanan ini benar-benar melakukan kegunaannya bagi kita.”

Dengan melakukan percobaan di laboratorium menggunakan model sel tumor, mereka memasukkan sel ini pada konsentrasi yang berbeda-beda dari racun yang berbeda dan senyawa teh hijau yang tercerna.

Dr. Okello menjelaskan, “Bahan kimia tercernanya melindungi sel, mencegah racun dari menghancurkan sel-sel ini.

“Kami juga melihat bahwa mereka mempengaruhi sel-sel kanker, secara signifikan memperlambat pertumbuhan mereka.

“Teh hijau telah digunakan dalam pengobatan tradisional Cina selama berabad-abad dan apa yang kami miliki di sini memberikan bukti ilmiah mengapa hal itu mungkin efektif terhadap beberapa penyakit utama yang kita hadapi saat ini.”

Langkah berikutnya adalah mengetahui apakah senyawa yang bermanfaat ini dihasilkan selama proses pencernaan manusia yang sehat setelah relawan mengkonsumsi polifenol teh. Tim riset ini telah menerima dana dari Biotechnology and Biological Sciences Research Council (BBSRC) untuk penelitian lebih lanjut.

Dr. Okello menambahkan, “Jelas ada banyak faktor yang secara bersamaan memiliki pengaruh terhadap penyakit seperti kanker dan demensia – pola makan yang baik, banyak berolahraga dan gaya hidup sehat, semuanya penting.”